Cari
Jumat, 04 Agustus 2017
Cartoons Indonesia - Terungkap, Alasan Kenapa Orang Cerdas Cenderung Menjadi Seorang Ateis
Hai sobat Cartoons Indonesia semua, pada kesempatan kali ini, kita akan membahas sebuah hal yang cukup menarik yaitu mengapa orang yang pintar bisa menjadi seorang Ateis atau orang yang tidak mempercayai adanya Tuhan.
Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata akhirnya menjadi seorang ateis ini telah muncul sejak zaman Romawi dan juga zaman Yunani Kuno.
Seperti yang di lansir dari sains.kompas.com (10/07/2017), Hubungan antara kecerdasan dan agama dapat dijelaskan jika agama dianggap sebagai naluri, dan kecerdasan merupakan kemampuan seseorang dalam melampaui naluri. Inilah usul dari dua orang ahli, yaitu Edward Dutton dan juga Dimitri Van der Linden dalam sebuah artikel di Evolutionary Psychological Science jurnal Spinger. Dari keduanya, mereka mengusulkan adanya Model Asosiasi Ketidakcocokan-kecerdasan.
Model ini mencoba untuk untuk menjelaskan apa dan mengapa bukti sejarah dan juga sebuah data survey terbaru dari berbagai negara dan juga antarkelompok yang mendukung adanya sifat yang berbanding terbalik antara kepintaran dan juga agama.
Menurut Dutton dan Van der Linden, mereka memiliki pendapat bahwa agama seharusnya dianggap sebagai suatu naluri atau sebuah domain yang berkembang secara terpisah. Dan lagi, kecerdasan memungkinkan manusia untuk melampaui naluri setiap individu.
"Jika agama adalah domain yang berkembang, maka itu adalah naluri, dan kecerdasan—dalam memecahkan masalah secara rasional—dapat dipahami sebagai kemampuan mengatasi naluri dan merupakan sifat penasaran yang intelektual. Kemampuan itu dapat membuka kemungkinan non-naluriah’, jelas Dutton.
Menurut mereka, naluri yang dimiliki oleh manusia lebih cenderung untuk beroperasi ketika seseorang sedang stres. Dan menjadi seorang yang cerdas, manusia bahkan bisa untuk melampaui naluri mereka selama masa-masa yang penuh dengan tekanan.
"Jika agama memang sebuah domain yang berkembang layaknya naluri, maka akan semakin tinggi pada saat stres. Ketika stres, orang cenderung bertindak secara naluriah. Ada bukti jelas untuk ini,” kata Dutton.
"Ini juga berarti bahwa kecerdasan memungkinkan kita untuk dapat berhenti sejenak dari segala situasi dan konsekuensi yang mungkin timbul dari tindakan kita”, katanya lagi.
Bahkan para peneliti percaya kalau seseorang yang merasa tertarik kepada hal-hal diluar naluri berpotens menjadi sebuah problem solver yang lebih baik.
"Ini penting. Dalam ekologi yang berubah, kemampuan memecahkan masalah akan dikaitkan dengan meningkatnya naluri kita. Hal itu membuat kita tertarik pada ketidakcocokan evolusioner," tambah van der Linden.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar