Cari

Sabtu, 05 Agustus 2017

Cartoons Indonesia - Sejarah Mencatat Tentara Belanda Pernah Singgah di Kampung Tempino Jambi


Satu saja mimpi untuk tanah kelahiran Tempino Jambi ialah berdirinya Monumen Tentara Belanda. Monumen ini akan menjadi Destinasi Wisata Sejarah. Ini bukan sembarangan cita cita tetapi inilah mimpi semua Budak Tempino untuk Kampong tercinta tanah tumpah darah. Terus terang masih banyak yang belum tercapai. Impian itulah yang terbetik di hati kami semua anggota Komunitas Sosial Media Wonderful Tempino (WT) . Impian terrangkum ketika silaturahim lintas generasi WT terselenggara bersamaan dengan lebaran mudik kampung di kediaman Uda Buyung RT 04 Tempino yang terletak diantara Tangsi 12 dan Woneng Kapal Terbang.

Wadah sosial media dibentuk guna mempertautkan hati anak anak Tempino yang terserak merantau di nusantara bahkan sampai ke manca negara. Takdir menetapkan kami dilahirkan di tanah minyak yang dulu sangat makmur seiring dengan masih banyaknya emas hitam itu terkandung di perut bumi Tempino. Kampung yang semakin lama semakin sepi sejak di tinggalkan Pertamina ( karena minyak bumi sudah terkuras habis ) Habis manis sepah dibuang . Kondisi menyedihkan inilah yang menimbulkan semangat untuk membangkitkan kembali batang terendam. Ya sejarah mencatat geliat ekonomi dan budaya Tempino tahun 1930- 1980 ( dusun kecil yang terletak di Kecamatan Mestong Kabupatan Muaro jambi, Propinsi Jambi, hanya berjarak 27 Km dari Telanai Pura.) pernah mengalami masa keemasan.

Kami bertekad mewujudkan Tempino sebagai desa tujuan wisata sebenarnya tidak sulit sulit banget pasalnya potensi wisata sudah melekat pada sejarah kemerdekaan Republik Indonesia. Faktor apa yang menyebabkan para pelancong mau datang ke satu destinasi wisata. Tentu saja ada sesuatu yang menarik dan unik terdapat pada kawasan wisata tersebut. Menarik ‘bak magnet, benar benar membuat para pelancong seperti butir butir pasir di tarik besi brani. Kemudian unik bermakna sesuatu benda sejarah itu tidak terdapat di tempat wisata lain. Kedua faktor ini merupakan potensi terpendam yang harus digali dan dicari oleh warga yang ingin desanya ramai dikunjungi orang.

Jelas potensi wisata itu adalah Dokumentasi Tentara Belanda di Tempino. Ya Magnet itu ada di dokumentasi sejarah Tempino. Mas Koko menemukan satu foto yang didapat dari perpustakaan Belanda. Foto itu menggambarkan 3 buah truk militer beserta serdadu Belanda sedang istirahat di Tempino. Peristiwa tercatat pada Januari 1949. Saksi sejarah Ibu Husna Dahlan SH seorang notaris yang kini tinggal di Bogor mengkisahkan waktu ber usia 9 tahun dia menyaksikan serdadu Belanda masuk ke wilayah Tempino. Bersama Etek Syam, Husna ketakutan didalam rumah woneng dekat masjid ketika Tentara Belanda menggeledah setiap rumah mencari kaum lelaki. Untunglah para lelaki tambang minyak telah terlebih dulu mengungsi ke hutan di sekitar Tempino.

Tiba tiba muncul ide untuk membangun Monumen Tentara Belanda itu di Tempino, persis di tiang listrik sebagai penanda bahwa memang foto itu diambil di Tempino. Tiang listrik saksi sejarah itu sampai saat ini masih berdiri tegak dan kokoh di atas pasar Tempino. Monumen yang akan dibangun tersebut adalah bangunan tinggi sesuai dengan besar sesungguhnya dalam bentuk banner foto. Monumen dibangun didekat tiang listrik persis di simpang empat diatas bioskop dan gedung pertemuan (suzs).

Penduduk Tempino yakin, Monumen Tentara Belanda ini akan menjadi destinasi wisata baru Propinsi Jambi. Monumen ini unik sebagaimana adanya tujuan wisata Jambi di Candi Purbakala Muaro Jambi dan Jembatan Gentala Arasy di atas Sungai Batanghari. Tempino akan hidup dan ramai dikunjungi wisatawan dalam negri dan manca negara. Saat ini Tempinio hanya dikenal dengan Kolam Pak Kasim, Sop Buntut Mak Kutar dan Perpustakaan Kasidah. Hanya itu.

Berdirinya Monumen Tentara Belanda Tempino sebagai Magnet Wisata dunia seperti Menara Eiffel, Menara Pisa atau Great Wall serta Candi Borobudur. Tempino ramai dikunjungi wisatawan dan setelah itu semua menjadi mudah. Para peramai lainnya adalah kelompok orang orang yang secara otomatis datang ke desa wisata. Komunitas tersebut biasanya terdiri dari para pedagang, penjual jasa transportasi, perhotelan dan segala macam produk atau jasa yang dibutuhkan oleh para tamu tersebut.

Kelak kita menyaksikan betapa meriah dan hidupnya Tempino seandainya mimpi Tujuan Wisata Propinsi Jambi terwujud. Minyak memang tidak ada lagi disini, tetapi kini kami punya Monumen Belanda . Banyak mobil pribadi dan mobil wisata serta motor hilr mudik membawa pelancong. Rumah rumah peninggalan Pertamina akan ramai lagi dihuni sebagai penginapan wisatawan. Ratusan rumah itu sampai saat ini masih dialiri listrik, gas dan air bersih. Pasar Tempino akan kembali ramai, banyak orang yang akan belanja disini menikmati kuliner khas sembari membeli souvenir Monumen Tempino.

Disana ada Bioskop peninggalan Pertamina yang bisa menayangkan film film sejarah dan panggung hiburan dan gedung pertemuan (suizs) akan menjadi ajang pertemuan antar budaya. Selain berfoto di Monumen Belanda para wisatawan juga bisa berfoto ria di Boran Pertamina (mesin jungkat jungkit pemompa minyak) yang masih banyak bertebaran di sekeliling Tempino. Geliat ekonomi memberikan kesejahteraan untuk seluruh warga Tempino dan sekitarnya.

Ach begitu muluk kah impian seorang penulis tua di usia senja. Entahlah. Semua harapan itu menjadi penyemangat dan tetap berharap semata menggapai redha Tuhan. Akhirnya terpulang kepada takdir setelah upaya manusia didawamkan. Paling tidak impian menjadikan Tempino sebagai Destinasi Wisata sudah di utarakan disini karena memang ada potensi wisata luar biasa sebagai Magnet. 70 Tahun Indonesia Merdeka, Boleh kan kami berharap dusun kami nan sepi itu diramaikan kembali. Berharap dukungan Pemerintah Daerah dan Tokoh masyarakat serta segenap lapisan masyarakat terutama Budak Budak Tempino kiranya Monumen Tentara Belanda selesai dibangun sebelum ulang tahun RI ke 71.

Point yang ingin disampaikan disini adalah bahwa tidak ada larangan dari Pemerintah Berkuasa ketika rakyat mempunyai cita cita atau sebut saja sebagai mimpi. Selanjutnya mimpi diserahkan pada sunatullah alam ketika dimensi waktu dalam suatu keyakinan bahwa tidak ada yang tidak mungkin terjadi atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa. Pengalaman membuktikan semua berawal dari keberanian bermimpi dan selanjutnya terserah Malaikat Pengawal setia yang akan bertindak sesuai dengan kewenangannya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar