Cari

Minggu, 06 Agustus 2017

Cartoons Indonesia - Apakah Benar, Kemerdekaan Indonesia, Hadiah dari Jepang?


Marikita ketahui, Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia terjadi pada hari Jumat, 17/8/1945 Masehi, atau 17/8/2605 menurut tahun Jepang. Sedangkan menurut Kalender Hijriyah, kemerdekaan Indonesia jatuh pada tanggal 8 Ramadhan 1364. Ketika itu, teks proklamasi dibacakan langsung oleh Ir. Soekarno yang didampingi oleh wakilnya Drs. Mohammad Hatta di Jalan Pegangsaan Timur no.56 – Jakarta Pusat.
Sebelumnya, Perdebatan penentuan hari Proklamasi kemerdekaan Indonesia sudah dimulai seminggu sebelum pembacaan naskah proklamasi pada 17 Agustus 1945 oleh Ir. Soekarno. Ternyata, perjuangan panjang selama puluhan tahun itu dipenuhi dengan persaingan antara kelompok pemuda Indonesia yang ingin segera mengumumkan kemerdekaan.
Lantas benarkah kemerdekaan republik ini sebagai hadiah terindah dari penjajahan Jepang? Berikut rangkuman detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia yang dilansir dari (nasional.tempo.co Rabu, 17 Agustus 2016).
Enam hari sebelum peristiwa Proklamasi, tepatnya pada 12/8/1945. Ir. Sukarno, Hatta dan Dr. Radjiman bertemu langsung dengan pimpinan Jepang di kota Saigon, Vietnam. Pada pertemuan singkat itu, Terauchi, yang merupakan seorang pejabat Jepang saat itu mengutarakan pemberian hadiah untuk Indonesia dari pemerintah Jepang.
Dalam pidato singkatnya, Terauchi mengatakan "Tuan-tuan, saya ingin mengabarkan bahwa pemerintah Jepang telah memutuskan untuk memberikan hadiah berupa kemerdekaan kepada Indonesia." Bung Karno bersama rekannya pun menyambut hangat pemberian tersebut. Seusai pertemuan itu, Hatta langsung menyampaikan kepada Bung Karno bahwa perlunya mempercepat proses kemerdekaan.
Pada 15 Agustus 1945, Ir. Sukarno dan Hatta mendatangi kantor Yamamoto di Gunseikanbu yang merupakan Kantor Pusat Administrasi Militer Jepang saat itu. Maksud kedatangan tokoh tersebut hanya untuk menanyakan kepastian betul atau tidaknya berita Jepang telah menyerah pada sekutu. Sesampainya di Gunseikanbu, Gambir (sekarang jadi kantor Pertamina) ternyata kantor Yamamoto kosong. Kemudian mereka menanyakan perihal menyerahnya Jepang pada Laksamana Maeda, dan dia membenarkan berita tersebut dan sudah disiarkan oleh Sekutu, tetapi saat itu Maeda belum memperoleh berita dari Tokyo, sebab itulah Maeda menganggap berita itu belum pasti benar.
Masih pada hari yang sama, tepat pukul 9.30 WIB, Sekelompok pemuda mendatangi kediaman Bung Karno di Pegangsaan. Kedatangan mereka tidak lain hanylah ingin mengutarakan niatnya agar Bung Karno dan Hatta segera menyatakan kemerdekaan, dan lepas dari janji Jepang dan PPKI.
Pada tanggal 16 Agustus 1945, Para pemuda kembali mendatangi kediaman Bung Karno Pukul 3 pagi. Para pemuda berpakaian seragam PETA tersebut masuk secara diam-diam. "Berpakaianlah Bung. Sudah tiba saatnya," kata salah seorang pemuda. Pemuda lainnya juga berkata, "Oleh karena itu kami sudah memutuskan untuk membawa Bung ke tempat yang aman diluar kota". Pukul 4 pagi, terlihat ada dua mobil di pekarangan rumah Bung Karno, ternyata dalam salah satu mobil tersebut sudah ada Hatta, Sukarno, Fatmawati dan Guntur masuk ke mobil Fiat. Mereka menuju Rangasdengklok dan kedua tokoh itu disembunyikan di rumah Djiauw Kie Siong.
Pukul 18.00, Sukarni, yang merupakan seorang aktivis Menteng 31 mendatangi persembunyian kedua tokoh utama tersebut. Ia mengabarkan bahwa Ahmad Subardjo telah datang dan ditugasi oleh Gunseikan untuk membawa kembali rombongan kembali Jakarta dengan alasan Panitia Persiapan Kemerdekaan tak bisa bekerja tanpa dua tokoh tersebut. Kemudian rombongan itu pun kembali ke Jakarta dengan menggunakan tiga mobil.
Sekitar Pukul 20.00, sampailah mereka di kediaman Bung Karno. Namun hanya Fatmawati dan Guntur saja yang turun. Sedangkan Bung Karno kembali melanjutkan menemani Bung Hatta pulang. Pada pukul 22.00, Bung Karno bersama dengan Subadjo menjemput Bung Hatta menuju ke rumah Laksamana Maeda. Dalam pertemuan tersebut, Maeda meminta Bung Karno untuk mencegah pemberontakan. "Tuan-tuan, kita harus bisa mencegah pemberontakan yang dilakukan oleh para pemuda dan tentara PETA malam ini karena mereka akan berhadapan dengan tentara Jepang."
Dinihari 17 Agustus, Sukarno dan Hatta kembali datang ke rumah Maeda. Sementara didalam rumah Maeda sudah banyak orang yang hadir, Tampak disana ada Otto Iskandardinata, Teuku Mohammad Hasan, Latuharhary SH juga ada tokoh pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, Sayuti Melik dan BM Diah.
Kemudian Ir. Sukarno dan Hatta merancang sebuah naskah proklamasi. Tak lama berselang, terjadi perdebatan setelah Hatta menanyakan siapa saja yang harus ikut dalam menandatangani naskah proklamasi itu. Akhirnya, setelah berunding dengan tokoh lain. Sayuti Melik melontarkan idenya kepada Sukarni. "Bukan kita semuanya yang hadir di tempat ini harus menanda tangani naskah tersebut. Tapi cukuplah dua orang saja yang menanda tangani naskah atas nama seluruh rakyat Indonesia, yaitu Bung Karno dan Bung Hatta." Ucap Sukarni.
Pukul 03.00 pagi, Sukarni menyatakan bahwa naskah proklamasi harus dibacakan oleh Bung Karno di Lapangan Ikada karena mereka sudah memberitahukan kepada rakyat agar semua mendatangi lapangan itu. Usul Sukarni itu langsung ditolak oleh Sukarno. "Lebih baik ini dilakukan di tempat kediaman saya, Pegangsaan Timur. Pekarangan di depan rumah saya cukup luas untuk menampung ratusan orang. Untuk apa kita harus memancing-mancing insiden." Ucap Sukarno. Akhirnya Bung Karno memutuskan, "Karena itu, saya minta saudara-saudara sekalian untuk hadir di Pegangsaan Timur no.56 pukul 10.00 pagi". Setelah selesai Sayuti Melik mengetik naskah proklamasi, keluarlah Laksamana Maeda dan mengucapkan selamat, ketika itu dia datang bersama beberapa orang Jepang.
Pukul 9.50, 17 Agustus 1945. Beberapa orang nampak begitu gelisah karena Bung Hatta belum datang. Saat itu, Bung Karno pun bersikeras tidak akan membacakan naskah tanpa kehadiran rekanya itu. Akhirnya lima menit kemudian, pukul 10.00 Hatta pun datang dan disambut meriah. Kemudian Bung Karno memberikan pidato singkatnya. "Demikianlah saudara-saudara ku, sekarang kita telah merdeka. Mulai saat ini kita menyusun negara kita. Negara Republik Indonesia merdeka. Insya Allah, Tuhan memberkati kita dan kemerdekaan kita ini".

Tidak ada komentar:

Posting Komentar